Analisis Pasca Pemilu

Sebenarnya sudah agak lama terbersit niatan untuk menulis tentang hal ini. Namun dikarenakan perlunya observasi mendalam, saya memutuskan untuk menungu sejenak.


ya sodara-sodara, kali ini saya akan menulis tentang para Caleg kita yang menderita stress setelah pemilu. Observasi yang disebut diatas sebenarnya hanya untuk memastikan bahwa para Caleg yang kehilangan akal sehat mencapai angka yang lebih dari satu. Ternyata benar, ada di sini, terus di sini, emmm...nah ini ketemu satu lagi. Entah berita itu benar ato salah, yang jelas memang ada tendensi kegilaan yang dapat menimpa para caleg tersebut.

Setelah saya amati dengan seksama (layaknya mengamati gambar-gambar "serupa tapi tak sama") kegilaan Caleg bisa dibagi dalam beberapa kategori:

1. Gila emosional: mereka yang kalah lalu memaki-maki dan menyalahkan KPU, pemilih,DPT, caleg lain, bilik suara, kertas suara, Hansip, tinta pemilu, starbucks, pokoknya semua selain dirinya sendiri. Jika bertemu yang seperti ini dicuekin aja, mereka cuma cari perhatian menurut saya.

2.Gila tak bermoral: mereka yang kalah lalu tidak bersedia memberikan uang yang dijanjikan kepada masyarakat (money politics pada dasarnya sudah kotor, jadi sebaiknya dilakukan penuh itikad baik, kejujuran, dan integritas tinggi untuk mengurangi kekotorannya), atau mungkin merampas barang-barang yang pernah diberikan saat kampanye seperti TV, karpet, dll. Mereka ini menjadi rela untuk membuang harga dirinya karena kekalahan, dan tega untuk mempermainkan rakyat kecil...menurut saya yang seperti itu sama saja dengan orang gila.

3.Gila beneran: keliatannya yang seperti ini sudah cukup jelas. Mungkin karena terlalu banyak tekanan dan utang mereka jadi seperti ini...kasihan...

4.Gila tapi kepilih: Percaya atau tidak, yang seperti ini juga ada lho :D

Berbagai cara dilakukan berbagai pihak untuk mengantisipasi amukan caleg-caleg gila ini (waduh! serem amat). Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Rumah Sakit Jiwa Marzoedi Mahdi di Bogor, mereka menyediakan kamar VIP bagi para mantan caleg yang kurang beruntung ini, walaupun sebenarnya mereka yang mengalami gangguan jiwa tidak begitu ahli dalam membedakan mana ruang yang VIP dan mana yang bukan. Lalu melihat latar belakang para mantan caleg yang menggila ini karena faktor keuangan, menurut saya charge untuk ruang VIP akan menjadi tidak terjangkau bagi keluarganya (kecuali kalau mereka superkaya...tapi kalo superkaya kok masih bisa gila ya?)

Kita sebagai masyarakat juga harus mengantisipasi munculnya mantan caleg gila tak bermoral seperti nomor 2 diatas. Mungkin ini untuk pembelajaran bagi pemilu-pemilu di masa datang, baik itu milih presiden, caleg, gubernur, kades, dsb. Antisipasinya berupa:

1. Jika mereka memberikan suatu barang saat masa kampanye, ada baiknya penyerahan tersebut dituangkan dalam perjanjian. Inti perjanjiannya adalah si caleg/kandidat ini tidak berhak untuk mengambil kembali barang yang telah diberikan dalam situasi dan kondisi apapun, tandatangan siatas materai (Rp 6000, itung-itung modal lah:D... kalo barangnya lebih murah dari Rp 6000, suruh calegnya yang beli materai!).

2.Jika tidak ada perjanjian seperti diatas, jangan menerima barang-barang yang bisa habis atau sulit dikembalikan. Misalnya diberi celana dalam, akan sangat sulit jika celana dalam itu sedang kita pakai, eh, ketemu sama calegnya, dia minta deh celana dalam pemberiannya itu (yang sedang kita pake). Atau dikasih durian (waktu itu lagi musim durian) kan langsung dimakan dong! nah swaktu calegnya kalah, dia minta duriannya dikembaliin, padahal musim duriannya sudah lewat, bau duriannya aja dah gak ada, lagi-lagi kita yang direpotkan. Selektiflah dalam memilih caleg khususnya dalam memilih pemberiannya (makin lama makin ngaco nih tulisan).

sebelum tambah hancur lagi, saya ingin buru-buru melompat ke kesimpulan saja. Erat kaitannya fenomena ini dengan faktor keuangan sang mantan caleg yang menjadi amburadul karena kekalahan di Pemilu. Betapa disayangkannya hal ini, karena ini menunjukkan bahwa kampanye yang berlangsung tahun ini masih material-sentris (ada gak ya istilah begini?) artinya caleg berusaha memikat hati calon pemilih menggunakan iming-iming barang atau uang. Kampanye untuk menjadi anggota legislatif itu pun dilakukan tanpa keikhlasan. Orang -orang seperti ini yang nantinya saat terpilih akan mengabdikan awal masa jabatannya untuk mengembalikan modal kampanye, baru setelah itu (kalau masih ingat) berjuang (kalau sempat) untuk (kalau bisa tidak usah) rakyat. Atau mungkin rakyat Indonesia memang cuma bisa dipikat oleh barang dan uang? Bisa saja, dan kalu anda memang rakyat yang seperti itu, semoga tips yang saya berikan diatas bisa bermanfaat.

2 comments:

Dody said...

wah semoga analisis kamu itu banyak yang tidak benar ya gung... kasihan kalo negara ini pilih caleg yang gila karena kepilih... hahahaha

agung prasetyo said...

yah kalo sampe kejadian...namanya juga indonesia:D